anggun

anggun

Minggu, 22 Mei 2011

Nanti Duluch,,,,,,,,,

NANTI DULU........................


Bila kau ingin jadi kekasihku
Baiknya bertemanlah saja dulu tuk mengenalku
Bukan aku tak suka kamu ataupun ku tak mau denganmu
Aku hanya ingin mengenalmu lebih dulu ooh yeah.....................

Aku terlalu suka kepadamu 
Tak apa bila ku harus bersabar tuk menunggumu
Karna rasa sayangku ini terlalu besar untuk dirimu
Tentu saja aku menunggumu oh sayangku

Jangan dulu paksa aku terimamu dan cintamu, nanti dulu, sabar dulu
Aku takkan buru-buru, mendesakmu, memaksamu
Aku mau (kamu mau) menunggumu (menungguku)

Ooh nanti dulu, sabar dulu, ooh.........................................

Aku (aku) hanya (hanya) ingin selalu bersama kamu
Dan aku (aku) ingin (ingin) bersahabatlah dulu
lyricsalls.blogspot.com
Berteman dulu, mengenalmu lebih dulu

Jangan dulu paksa aku terimamu dan cintamu, nanti dulu, sabar dulu
Aku takkan memaksamu tuk menerima cintaku, aku mau menunggumu
Jangan dulu paksa aku (aku takkan memaksamu) nanti dulu, sabar dulu
Tolong jangan buru-buru (aku takkan buru-buru), nanti dulu, sabar dulu

Jangan dulu paksa aku (aku takkan memaksamu)
Tolong jangan buru-buru (aku takkan buru-buru)
Jangan dulu paksa aku (aku takkan memaksamu), nanti dulu, sabar dulu.............................

Kamis, 05 Mei 2011

TRANSFORMASI GEN OLEH BAKTERI AGROBACTERIUM TUMEFACIENS



BIOTEKNOLOGI AGROBACTERIUM
TRANSFORMASI GEN OLEH BAKTERI AGROBACTERIUM TUMEFACIENS
OLEH

SANGGUL HUTASOIT
NIM : 0805105021



KONSENTRASI BIOTEKNOLOGI PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2011/2012







I.                  PENDAHULUAN
Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri patogen pada tanaman yang banyak digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan suatu tanaman transgenik. Secara alami, A. tumefaciens dapat menginfeksi tanaman dikotiledon melalui bagian tanaman yang terluka sehingga menyebabkan tumor mahkota empedu (crown gall tumor).
        Bakteri yang tergolong ke dalam gram negatif ini memiliki sebuah plasmid besar yang disebut plasmid-Ti yang berisi gen penyandi faktor virulensi penyebab infeksi bakteri ini pada tanaman. Untuk memulai pembentukan tumor, A. tumefaciens harus menempel terlebih dahulu pada permukaan sel inang dengan memanfaatkan polisakarida asam yang akan digunakan untuk mengkoloniasi/menguasai sel tanaman. Selain tanaman dikotiledon, tanaman monokotiledon seperti jagung, gandum, dan tebutelah digunakan untuk memasukkan sel asing ke dalam genom tanaman. Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri patogen pada tanaman yang banyak digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan suatu tanaman transgenik.
Sebagian besar genus Agrobacterium menyebabkan tumor pada tanaman dikotil. Species Agrobacterium tergolong bakteri gram negatif yang tergolong bakteri aerob dan mampu hidup baik sebagai saprofit maupun parasit. Agrobacterium berbentuk batang, berukuran 0,6 – 1,0 µm sampai 1,5 – 3,0 µm, dalam bentuk tunggal atau berpasangan. Agrobacterium merupakan bakteri yang mudah bergerak (motile) dan memiliki 1-6 flagela peritrichous serta merupakan bakteri tak berspora. Suhu optimal pertumbuhan bakteri ini adalah 25-28°C. Kumpulan bakteri ini biasanya berbentuk cembung, bulat, lembut, dan tak berpigmen. Agrobacterium diisolasi dari tanaman yang terinfeksi Crown Gall. Tumor Crown Gall adalah jaringan tanaman yang pertumbuhannya tidak terdiferensiasi akibat adanya interaksi antara tanaman-tanaman yang rentan dengan strain virulen Agrobacterium tumefaciens.

           

II.               PEMBAHASAN

2.1.  Agrobacterium dan Peranannya dalam Transfer Gen
Transformasi gen adalah proses dimana DNA asing dimasukkan kedalam sel tanaman, dimanapara pemulian tanaman dapat memasukkan gen asing kedalam sel atau jaringan tanaman, baik secara langsung maupun tak langsung tanpa merujuk kepada tingkat hubungan genetik atau kompatibelilitas suatu jenis. Teknologi pemindahan gen atau transfer gen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu langsung dan tidak langsung. Contoh transfer gen secara langsung adalah perlakuan pada protoplas tanaman dengan eletroporasi atau dengan polyethyleneglycol (PEG), penembakan eksplan gen dengan gene gun atau di vortex dengan karbit silikon. Teknik pemindahan gen secara tak langsung dilakukan dengan bantuan bakteri Agrobacterium. Dari banyak teknik transfer gen yang berkembang, teknik melalui media vektorA. tumefaciens paling sering digunakan untuk metransformasi tanaman, terutama tanaman kelompok dikotil. Bakteri ini mampu mentransfer gen kedalam genom tanaman melalui eksplan baik yang berupa potongan daun (leaf disc ) atau bagain lain dari jaringan tanaman yang mempunyai potensi beregenerasi tinggi.(Adis.2010.)
Gen yang ditransfer terletak pada plasmid Ti (tumor inducing ). Segmen spesifik DNA plasmid Ti disebut T-DNA (transfer DNA ) yang berpindah dari bakteri ke inti sel tanaman dan berintegrasi kedalam genom tanamn. Karena A. tumefaciens merupakan patogen tanaman maka Agrobacterium sebagai vektor yang digunakan untuk transformasi tanaman adalah bakteri dari jenis plasmid Ti yang dilucuti virulensinya (disarmed), sehingga sel tanaman yang ditransformasi oleh Agrobacterium dan yang mampu beregenerasi akan membentuk suatu tanaman sehat hasil rekayasa genetik. Teknik transformasi melalui media vektor Agrobacterium pada tanaman dikotil telah berhasil dengan baik tetapi sebaliknya tidak umum digunakan pada tanaman monokotil. Namun beberapa peneliti telah melaporkan bahwa beberapa strain Agrobacterium berhasil metransformasi tanaman monokotil seperti jagung dan padi.



2.2.  Proses Transformasi Gen oleh Agrobacterium tumefaciens
            Dasar dari transformasi genetik oleh Agrobacterium adalah transfer dan integrasi T-DNA ke dalam genom di dalam inti sel tanaman. T-DNA adalah suatu bagian pada tumor inducing (Ti) plasmid yang terdapat di dalam sel Agrobacterium. Ti-plasmid berukuran sekitar 200-800 kbp dan T-region (T-DNA)nya sendiri berukuran sekitar 10% nya (10-30 kbp). T-region ini dibatasi oleh dua sekuen pembatas (border) yaitu right border dan left border yang mengapit T-region. Bagian lain dari Ti-plasmid yang tidak kalah pentingnya adalah vir-region yang mengandung sejumlah gen-gen virulen (virA, virB, virC, virD, virE, virF,virG dan virH) yang berfungsi didalam proses transfer T-DNA ke dalam sel tanaman.
            Proses transformasi dimulai dengan melekatnya Agrobacterium pada sel tanaman. Kejadian awal ini dimediasi oleh gen-gen yang berlokasi pada kromosom bakteri (gen chvA, chvB dan att). Langkah berikutnya adalah terinduksinya gen-gen pada vir-region oleh suatu signal yang spesifik didalam sel bakteri sehingga dihasilkan produk dari expresi gen-gen virulen untuk memproses T-DNA dan mentransfernya dari dalam sel bakteri. Prosesing dan transfer T-DNA dimediasi oleh berbagai protein yang dikode pembentukannya oleh gen-gen virulen. Prosesing T-DNA dimulai dari suatu kejadian memproduksi T-DNA untai tunggal yang disebut T-strand yang ditransfer ke dalam sel tanaman. Kejadian ini dimediasi oleh produk dari genvirD1 dan virD2 yang berfungsi memotong T-DNA di bagian left border dan right border. Salah satu produk yaitu molekul VirD2 tetap melekat secara kovalen pada 5’ end dari T-strand dan membentuk apa yang disebut T-complex yang masih setengah jadi. Pembentukan T-complex ini dilaporkan berfungsi untuk menjaga T-DNA dalam perjalanannya menuju inti sel tanaman inang. Tahap akhir dari transformasi genetik oleh Agrobacterium adalah integrasi T-DNA ke dalam genom sel tanaman inang.

2.3 Transfer T-DNA oleh A. Tumefaciens kedalam sel tanaman.
Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri tanah yang dapat menyebabkan penyakit tumor pada beberapa tanaman. Bakteri menginfeksi melalui bagian yang luka pada batang tanaman dan mengakibatkan tumor pada daerah sekitar akar dan batang tanaman. Penyebab pembentukan tumor bukan berasal dari bakteri itu sendiri tetapi dari plasmid yang dikenal dengan plasmid Ti. Ukuran DNA plasmid Ti cukup besar, berkisar antara 140-235 kb (1 kb = 1000 pasang basa). Selama menginfeksi, sebagian kecil dari DNA plasmid Ti (15-30 kb), disebut T-DNA, ditransfer kedalam inti sel tanaman dan tersisipi kedalam DNA inti sel tanaman. Dari sini T-DNA sudah terintegrasi dan stabil terpelihara dalam genom sel.
T-DNA membawa gen yang bertangung jawab terhadap pembentukan tumor dan sintesa asam amino yang dikenal sebagai opine. Gen-gen yang bertanggungjawab untuk transfer T-DNA juga terdapat dalam plasmid Ti yang disebut gen-gen virulen (gen vir). Infeksi Agrobakterium memerlukan jaringan tanaman yang luka karena gen vir dapat terinduksi oleh senyawa fenolik yang dilepaskan ole sel-sel tanaman yang terluka.
Daerah ini merupakan potongan DNA berukuran relatif pendek berisi urutan 25 pasang basa yang berulang. Setiap potongan DNA yang tersisipi diantara kedua batas T-DNA akan ditransfer dan diintegrasikan kedalam genom tanaman. Oleh karena itu plasmid Ti merupakan vektor yang sangat cocok untuk mengintroduksi gen-gen asing ke dalam sel tanaman.
.

[Ilustrasi+transfer+T+DNA+oleh+A+Tumefaciens+AA.JPG]
Gambar  : Ilustrasi transfer T-DNA oleh A. Tumefaciens kedalam sel tanaman



2.4   Tanaman Kedelai Tahan Penggerek Polong Melalui Transformasi Genetik Gen
           Cry 1AB dengan Vektor  Agrobacterium Tumefaciens

Kedelai merupakan tanaman penting diIndonesia setelah padi dan jagung, yang hingga saat ini untuk memenuhi tingginya permintaan masih perlu dilakukan impor dalam jumlah yang sangat tinggi.Kebutuhan kedelai Indonesia meningkat hingga mencapai 2.24 juta setiap tahunnya, padahal produksi kedelai nasional pada tahun 2000 saja, hanya mencapai 1.19 juta ton. Hingga tahun 2000, Indonesia mengimpor kedelai 342.124 ton per tahun dan menghabiskan devisa sebesar USD 200-300 juta (Biro Pusat Statistik Indonesia 2002). Upaya peningkatan produksi kedelai di Indonesia terkendala oleh beberapa faktor,   diantaranya adalah tingginya serangan hama penggerek polong kedelai (Etiella zinkenella). Serangan hama ini dapat menurunkan hasil hingga 20-40 % pada areal pertanaman sekitar 11.000 ha setiap tahunnya, bahkan mencapai 90 % apabila tidak dilakukan pengendalian (Nurdin et al., 1995). Serangan hama ini dapat diatasi dengan penggunaan insektisida kimia. Namun demikian, penggunaan fungisida inimenjadi tidak efektif apabila dilakukan pada daerah dengan tingkat serangan yang sangat tinggi. Selain itu penggunaan fungisida yang terus menerus dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan timbulnya resistensi serangga terhadap bahan kimia.
 Upaya yang aman dan efektif untuk mengatasi hama tersebut adalah dengan perakitan kultivar kedelai yang tahan terhadap hama penggerek polong. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk merakit tanaman kedelai tahan hama penggerek polong adalah dengan membentuk tanaman kedelai transgenic dengan menggunakan metode transformasi gen. Transformasi gen pada tanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu transformasi secara langsung meliputi metode mikroinjeksi DNA, elektroforasi, fusi protoplas dan particle bombardment, serta transformasi tidak langsung dengan bantuan vektor Agrobacterium tumefaciens yang merupakan bakteri obligat gram negatif yang hidup alami di tanah. Transformasi tidak langsung melalui A. tumefaciens memanfaatkan vektor ganda dengan dua plasmid (plasmid biner).
A. tumefaciens yang dilengkapi dengan plasmid biner mampu memindahkan gen asing dan mengintegrasikannya ke dalam genom tanaman (Smith & Hood, 1995). Klon gen yang sudah banyak diteliti dalam usaha mengatasi serangan hama dari ordo Lepidoptera adalah gen Cry yang merupakan penyandi protein aktifanti serangga yang diisolasi dari bakteri Bacillus thuringiensis (Bt). Gen ini menghasilkan kristal protein yang bersifat racun bila terhidrolisis dalam jaringan usus serangga. Bt yang dikode oleh Cry1Ab terbukti efektif terhadap hama ordo Lepidoptera (Wunn et al.1996). Transformasi gen Cry untuk perakitan tanaman tahan hama Lepidoptera telahberhasil dilakukan pada tanaman jagung (Jagung Bt tahan penggerek batang), tanaman kapas (kapas Bt tahan penggerek buah), dan tanaman padi (padi Bt tahan penggerek batang).
Saat ini beberapa tanaman transgenik seperti kentang, kapas, dan jagung telah dilepas secara komersial di Indonesia (Loedin et al. 1998). Studi mengenai transformasi gen Cry1AB pada tanaman kedelai di Indonesia belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan transformasi gen Cry1AB kedalam Perakitan Tanaman Kedelai Tahan Penggerek Polong tanaman kedelai dengan menggunakanvektor Agrobacterium tumefaciens.
Kedelai tahan penggerek polong dengan transformasi genetik gen cry1Ab dengan vector Agrobacterium tumefaciens. Transformasi gen Cry1AB pada eksplan dua varietas kedelai.  Transformasi gen pada tanaman dapat dilakukan dengan dua cara yaitu transformasi secara langsung meliputi metode mikro injeksi DNA, elektroforasi, fusi protoplas dan transformasi tidak langsung dengan bantuan vektor Agrobacterium tumefaciens yang  merupakan bakteri obligat gram negatif yang hidup alami di tanah. Transformasi tidak langsung melalui A. tumefaciens memanfaatkan vektor ganda dengan dua plasmid (plasmid biner). A.tumefaciens yang dilengkapi dengan plasmid mampu memindahkan gen asing ke dalam genom tanaman.
transformasi gen Cry1AB pada tanaman kedelai di Indonesia belum banyak dilakukan. transformasi gen Cry1AB kedalam Perakitan Tanaman Kedelai Tahan Penggerek Polong tanaman kedelai dengan menggunakan vektor Agrobacterium tumefaciens
Transformasi pada tanaman kedelai dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan baik dalam bidang kultur jaringan maupun transformasi. Salah satu hambatan yang paling besar dalam transformasi adalah respon dari tanaman kedelai pada saat manipulasi kultur in vitro. Pertumbuhan semua eksplan yang berasal dari kotiledon tua tanaman kedelai setelah ditransformasi dengan A.tumefaciens tampak normal. Selain faktor seleksi, kecilnya kemungkinan terjadinya transformasi yang diperoleh juga disebabkan oleh faktor kontaminasi dari jamur mulai dari media ke media kokultivasi sampai dengan media seleksi.   Transformasi pada tanaman legume lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan tanaman lain sehingga harus diperhatikan sel target yang bersifat totipoten, sistem transfer gen ke dalam sel target, dan system seleksi, serta teknik identifikasinya.

III.                           KESIMPULAN
  • Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri patogen pada tanaman yang banyak digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan suatu tanaman transgenik. Secara alami, A. tumefaciens dapat menginfeksi tanaman dikotiledon melalui bagian tanaman yang terluka sehingga menyebabkan tumor mahkota empedu (crown gall tumor).
  • Metode transformasi yang diperantarai oleh Agrobacterium tumefaciens. Bakteri Agrobacterium tumefaciens dapat menginfeksi tanaman secara alami karena memiliki plasmid Ti, suatu vektor (pembawa DNA) untuk menyisipkan gen asing. Di dalam plasmid Ti terdapat gen yang menyandikan sifat virulensi untuk menyebabkan penyakit tanaman tertentu. Gen asing yang ingin dimasukkan ke dalam tanaman dapat disisipkan di dalam plasmid Ti. Selanjutnya, A. tumefaciens secara langsung dapat memindahkan gen pada plasmid tersebut ke dalam genom (DNA) tanaman. Setelah DNA asing menyatu dengan DNA tanaman maka sifat-sifat yang diinginkan dapat diekspresikan tumbuhan.
  • Di era transformasi genetik sekarang ini, peran Agrobacterium sangat besar dalam menghasilkan tanaman yang dimodifikasi untuk mendapatkan sifat yang diinginkan. Peran Agrobacterium dalam hal ini ialah sebagai  pembawa gen (DNA) yang diinginkan. Agrobacterium tumefaciens merupakan bakteri aerob obligat gram negatif yang hidup alami di tanah. Bakteri ini banyak menyebabkan penyakit crown gall (tumor) pada tanaman dikotil. Kemampuannya dalam menyebabkan penyakit ini berhubungan dengan gen penginduksi tumor yang ada pada plasmid (Ti) yang dijumpai dalam bakteri tersebut. Dalam sel tumor yang terbentuk terkandung enzim-enzim yang tidak tampak pada tanaman normal, karena enzim tersebut hanya dihasilkan oleh sel Agrobacterium. Enzim-enzim tersebut menghasilkan suatu senyawa gula spesifik yang dinamakan opin. Senyawa opin ini merupakan makanan bagi Agrobacterium itu sendiri.